spletet 2:11 2/6/2016

Setelah jatuh cinta pada dia-yang-tidak-bisa-disebut-namanya dan menjerumuskan gue pada puisi gemas tapi ya gitu bunyinya kemudian gue bengong dan beralih sambil dengerin indieshuffle. Dari kemaren gue juga abis nostalgia lagu lama jaman 7-8 taun yang lalu. dan gue menarik kesimpulan..

Cinta itu mungkin sama seperti selera musik. Sebenarnya kita bisa dengarkan genre apapun, kalau enak ya enak aja. Manusia emang banyak dalih untuk mengedepankan ke-sok keren-an mereka. Sama aja sebenernya kita bisa jatuh hati pada sesiapapun itu, tidak peduli setinggi apa standar yang kita tetapkan. Tapi cinta pertama memang rasanya berbeda, kaya gue dan lagu-lagu emo gue. Seberapa pun sok keren gue sekarang dan seberapa pun dengeran gue sekarang udah jauh bergeser dari 7-8 taun yang lalu, yang 7-8 taun yang lalu ga pernah lupa liriknya dan hatinya selalu meraung minta yang itu. Hahah. LOL. apasih gue. bye.

Menahan rasaku padamu seperti menahan lapar di bulan puasa
tidak nyaman, tapi harus
lama-lama aku terbiasa
menjaga perasaanku agar kamu jangan tahu
tidak nyaman, tapi harus
semoga akhirnya aku berhenti menunggu

hanya kamu
wanita yang pada tiap akhir perjumpaan
meninggalkan jejak rasa
yang membandel seperti noda
tak peduli berapa kali dibasuh hujan airmata
disapu gulungan ombak kegundahan
tapi tetap ada disana, terkikis mungkin
tapi tetap disana
seperti bukti sejarah bahwa
kita pernah ada cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s