Brutal Chat: Atheist

(22:21)

Ini merupakan hasil perbincangan gue sama Dita kaya sebulan yang lalu gitu atau bahkan lebih dan gue baru kepikiran mau nulisin ini sekarang.

Pada suatu hari yang ngablang tiba-tiba kita ngomongin soal Atheist. Awalnya bahas buku The World Without Islam, trus bahas perang salib, tiba-tiba bahas atheist. nah loh. semua berawal dari statement gue yang mengatakan orang atheist itu tolol.

Kenapa? Karena menurut gue orang atheist itu adalah orang yang cukup sombong hingga bisa-bisanya menegasikan kekuatan besar entah apa yang mengatur ini semua, divine forces, yang lebih sering kita kenal dengan istilah Tuhan. Karena menurut gue divine forces ini merupakan bagian dari realitas manusia, yang tidak bisa kita negasikan. Menurut gue sama aja kaya bilang bahwa psikologis manusia itu irrelevant, tolol kan? Gue memiliki pandangan bahwa baiknya ketika manusia beribadah pada apapun itu, itu untuk mencari ketenangan jiwa. Gue bisa bilang gini karena gue ngerasa bahwa selama in gue diajarin di sekolah Islam bahwa solat itu karena kewajiban dan kalo lo ga solat lo dosa dan kafir. Kemudian sekarang gue kuliah, rata-rata agama Nasrani. Gue rada terkesima ajasih gimana temen gue bilang bahwa dia bisa ngerasa ‘adem’ kalo denger lagu rohani. Gue berkesimpulan bahwa sebenernya kita disuruh untuk ibadah untuk mencari ketenangan hati. Untuk alam bawah sadar kita berinteraksi dengan that divine forces sehingga terciptalah ketenangan hati. Kalo kita punya ketenangan hati, kita akan berpikir jernih, kalo kita berpikir jernih kita akan bertindak benar. Masalah bagaimana cara mendapatkan ketenangan itu kan masalah ritual aja. Toh antara gue yang solat dengan temen gue yang dengerin lagu rohani memiliki ketenangan batin yang sama.

Gue merasa orang atheist sombong karena belum apa-apa sudah menegasikan kekuatan yang berada di atas kita tersebut.

Kemudian melanjutkan perbincangan gue dengan Dita, maksud hati gue mau memperkuat argumen gue barusan malah jadi mengangkat pertanyaan baru. Gue ngambil contoh soal cendikiawan Muslim. Mereka itu kebanyakan jadi ilmuan hebat-hebat karena ingin membuktikan isi Al-Quran. Intinya mereka mencoba menalarkan ayat Al-Quran. Hal ini karena sebenernya manusia bisa aja kan nerima dan percaya mentah-mentah dengan isi Al-Quran tanpa disaring dan difilter dan disegala macemnya itu. Kaya

Untitled

Kemudian langsung dijawab dengan

UntitledTanpa tau kenapa, apa alesan rasionalnya mereka harus taat. Tanpa pernah terbesit pertanyaan “Apakah benar langit terbelah dan menjadi seperti mawar? Dalam konotasi apa?”

Manusia bisa aja kaya gitu dan sekarang pun ada manusia yang kaya gitu, ya oknum-oknum yang menjadikan ayat-ayat Quran sebagai dasar dari terorisme, itu karena para pengikutnya ya ngikut aja tanpa pernah coba menalarkan. Kemudian statement gue ini malah menimbulkan pertanyaan baru.

Anggapan tentang orang atheist kan merasa bahwa segala sesuatu explainable dan bisa dijelaskan dengan logika, lantas apakah cendikiawan-cendikiawan tadi termasuk atheist? Gue bilang engga, Dita tanya kenapa, trus gue mikir…iya kenapa engga ya? Gue tau dalam hati gue jawabannya engga, mereka ga atheist tapi baru terpikir buat gue untuk memikirkan alasannya kenapa ya mereka ga atheist. Jawaban pertama gue adalah karena even after mereka menemukan sesuatu, ilmu baru dan yang lainnya itu, mereka stay humble. Mereka ga sombong sama si divine forces tadi.

Belum mantap gue dapet jawaban untuk pertanyaan tadi, muncul lagi pertanyaan baru: Seiring berjalannya waktu dan pengetahuan manusia makin maju berarti bakal makin banyak orang atheist dong? Kan semuanya jadi serba lebih rasional dan bisa dijelaskan dengan science, sedangkan di sisi lain kita disuruh untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. berarti Tuhan nyuruh kita melakukan sesuatu yang menghilangkan sisi magis dari Ketuhanan itu sendiri? Misalnya pake contoh bunga mawar tadi. Sekarang bunga mawar itu lebih kita kenal dengan ledakan Big Bang, sisi magis Ketuhanan dimana langit terbelah dan menjadi seperti bunga mawar menjadi hilang. fuck off kenapa pertanyaanya susah ya?

Gue berpikir sejenak dan gue mengevaluasi pemikiran gue. Gue jawab pertanyaan tadi dengan yang lebih gue tekankan disini adalah our attitude. Akhirnya kita dapat membedakan menjadi dua, dari sisi moral dan dari sisi pengetahuan, karena di Quran ada dua-duanya ya. Tentu, seiring berjalannya waktu semua yang di sisi pengetahuan akan terjawab dengan rasional. Lantas dengan begitu bukan berarti tiba-tiba Tuhan hilang. Suatu agama itu menuntun agar para pemeluk agama itu berada pada akhlak yang baik. Karena agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta: a (tidak) dan gama (kacau). Pada intinya agama menuntun para pemeluknya agar di hatinya itu non-chaotic, tidak kacau. Faktanya banyak kan orang yang pinter banget tapi angkuh? Koruptor deh, mereka pasti pinter mereka pasti cerdik tapi mereka ga baik kan? Pengetahuan yang tinggi ga menjamin perilaku kita baik, lantas fungsi kepercayaan pada Tuhan, pada divine forces tidak serta merta hilang.

Kemudian balik lagi ke para atheist, gimana dong dengan mereka? Apakah salah menarik segala hal kepada rasionalitas? Jawaban gue sekarang, ya engga. Ga salah menarik segala hal pada rasionalitas selama rasionalitas itu lurus. Bukan berarti orang ga beragama akhlaknya ga bisa baik kan? Sekarang gini, kasus ya misalnya, orang atheist dia ga percaya Tuhan dan dia ga belajar agama, dia sangat mungkin berprilaku baik karena terjaga oleh norma sosial misalnya, atau didikan orangtua. Norma dan didikan kan sesuatu yang rasional. TAPI kenapa norma tersebut bisa muncul pada awalnya? Karena orang-orang dan komunitas yang menciptakan norma tersebut pasti in some way percaya bahwa di dunia ini ada hubungan kausalitas dan hukum-hukum alam yang sebenarnya dapat kita amati. Divine forces.

Jadi akhirnya gue sampai pada kesimpulan bahwa sebenernya gaada orang yang atheis. Karena mereka mungkin ga mengenal atau mengakui mainstream perpective tentang Tuhan. Namun dalam pemahaman yang lebih luas, Tuhan itu lebih dari sekedar Tuhan dalam monotheisme. Tuhan juga menjelma pada roh-roh alam dan kepercayaan, pada hukum-hukum alam, sebagai karma, sebagai divine forces, kekuatan yang lebih tinggi dari kita. Pasti mereka percaya diantaranya. Bahkan gue mungkin bisa bilang atheis yang sesungguhnya adalah orang-orang yang ga menghargai kekuatan tadi dengan bertindak amoral. Kaya misalnya koruptor tadi, mau dia udah haji 18x juga kalo dia tetep korupsi mah artinya dia ga menghargai haji nya dia itu sebagai bentuk interaksi dengan divine forces tadi. Dia ga percaya sama kekuatan yang lebih besar dari dia, yang bisa menjungkirbalikkan nasibnya dalam jentikan jari dan balikan telapak-tangan-entah-tangannya-siapa.


LEBIH DALAM SOAL DIVINE FORCES

Pada dasarnya gue suka belajar soal agama dan filosofi. Gue tukang mikir emang. Gue dari dulu percaya bahwa Tuhan itu satu, namanya aja yang beda-beda. Kemudian suatu kali gue baca novel nih yang in some way menambah pemahaman gue

kutipan-ayu-utami-lalita

Intinya sebenernya dari kutipan tadi tuh menceritakan tentang filofosi Buddha yang tertuang dalam Candi Loro Jonggrang dan Candi Borobudur. Jadi dalam ajaran Buddha ya ada yang namanya Kamadhatu yang bermakna “ranah nafsu” atau “dunia nafsu”, Rupadhatu (alam wujud), dan Arupadhatu (alam tanpa wujud). Jadi dari Loro Jonggrang itu candi paling awal trus candi sesuatu yang gue lupa namanya kemudian baru Borobudur. Di Loro Jonggrang masih banyak arca-arca dewa dsb, ke candi selanjutnya makin berkurang dan di Borobudur gaada arca dewa samsek. Ini memiliki makna pada tingkatan ranah yang masih rendah manusia butuh ‘alat bantu’ untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. Alat bantu inilah dewa-dewa. Semakin tinggi pemahamannya semakin ga butuh lagi alat bantu sampe pada Borobudur dimana gaada arca sama sekali, kalo kata novelnya sih yang ada bagan jiwa ya. Gue menarik pemahaman begini; nabi-nabi, kitab, bahkan agamanya sendiri merupakan alat bantu bagi kita untuk memahami suatu konsep yang lebih abstrak yang sedari tadi gue sebut sebagai divine forces. Suatu keterikatan jiwa kita, alam bawah sadar kita, dengan alam semesta. Maka darisana gue semakin yakin bahwa Tuhan, yang kita kenal selama ini sebagai Tuhan itu lebih dari sekedar konsep Tuhan dalam monotheisme. Begitu kira-kira.

btw sekarang udah jam 1:01 pagi dan besok gue kuliah jam 8 kayaknya baiknya gue tidur dulu deh. bhay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s