yaela, udah subuh masih melek aja. yaela.

Maafin gue telat gue emang anaknya suka telat. Berhubung gue belom tidur semaleman ini perkara huru hara diatas genteng yang entah apa jadilah gue buka2 youtube dan dengan culunnya baru liat video ini. Seperti biasa gue baca comment orang-orangnya. Entah ya ini udah jadi semacam kebiasaan buat gue, unconsciously gue taruhan sama diri gue sendiri pasti ada aja orang yang berantem dengan dasar argumen yang ga relevan sama sekali. Bener aja kan.

Kita komentarin dari awal. Mengenai berita ini sendiri, menurut gue reaksi Bu Risma spontan dan itu wajar. Coba aja tempatin diri lo di posisinya dia. Setelah bertahun-tahun lo coba membangun kota Surabaya sampe bisa menerima banyak penghargaan internasional, termasuk Taman Bungkul itu juga. Dalam sehari kerja keras dia dirusak oleh orang-orang, termasuk warganya sendiri, yang ignorant. Gue emang gapernah langsung ke Surabaya dan main ke Taman Bungkul, tapi dari video aja keliatan bahwa tanaman yang rusak bukan sekedar rumputnya aja, tapi pohon-pohon kecil juga rusak semua. Pohon itu bukannya ga keliatan loh, dan common sense ajasih masa jalan semuanya disepak gitu asal aja. Hal ini membuktikan bahwa masyarakatnya aja ignorant, kampungan, dan ga punya etika. Pedes emang, sekalian.

Kalo mau dianalisa lebih lanjut dari sini aja udah keliatan karakter bangsa kita sekarang ini. Dependent, maunya diurusin dan dikelonin aja sama pemerintahnya. Giliran emang ada pemimpin yang mengurus rakyatnya, rakyatnya sendiri yang ternyata gabisa bertanggungjawab. Udah ga asing lagi kan kalo warga mana diliput stasiun tv ditanya soal pemerintahnya jawabannya seperti udah dihafal “pemerintah seharusnya lebih memikirkan rakyat, jangan korupsi”. Rakyatnya gabisa mandiri membangun negrinya sendiri dan bisanya nyalahin pihak lain aja. Contoh kasus ini kan sebenernya masalah sepele banget, masalah jalan liat-liat, jangan asal melengos aja. Udah bagus walikotanya bener ngebangun taman untuk kepentingan bersama. Lo ga liat tuh tanah kosong segede apaan di Gandaria bukannya buat apakek ijo-ijo malah jadi Gandaria City.

Kemudian gue mulai membaca bagian komentar. YAELA!

Baru awal-awal gue udah nemu aja komentar yang bisa dikomentarin.

Screenshot 2014-05-26 04.41.37YAAK. Yaudah langsung aja yuk kita komentarin. Kalo gue sendiri sih gue setuju ya sama si Aris Amarullah itu. Seperti yang diatas udah gue bahas, bisanya nyalahin aja. Tapi sebenernya dari komentarnya Moch Ridwan ini kita bisa dapet sesuatu yang lain. Ternyata di Indonesia ini ada loh orang-orang yang udah segitu ga percayanya sama pemerintah. Udah sentimen. Jadi mau pemerintahnya bagus atau jelek di mata orang-orang ini ya sama aja, pemerintah di sebrang rakyat. Ngeri ya Indon?

Kemudian gue lanjut scroll lagi dan gue menang taruhan sama diri gue sendiri HAHA.

Screenshot 2014-05-26 04.51.27Nah tu si Degon Begon, dari komen pertama aja udah keliatan. Lanjut ya.

Screenshot 2014-05-26 04.51.46Tuh bener kan, argumennya suka ga relevan dan ga logis deh. Tapi berhubung gue penasaran maka gue lanjut baca lagi.

Screenshot 2014-05-26 04.52.03Untung ada orang kaya si Stephannie Mutiara yang terdidik dan tau caranya berargumen yang santun meskipun menghadapi orang yang otaknya tinggal sperempat, yang kaya gini yang seharusnya jadi contoh terutama bagi yang doyan comment atau ngomong di forum. Lanjoot.

Screenshot 2014-05-26 04.52.19Not so long ago gue juga pernah berurusan sama manusia model Degon Begon ini, yang suka memutarbalikkan keadaan sedemikian rupa, argumennya ga terstruktur bolak-balik sana sini yang penting dia bisa terus nyerocos. Oh well..

Screenshot 2014-05-26 04.52.37Screenshot 2014-05-26 04.53.03Padahal awalnya ngomongin taman, kenapa jadi sekarang nyalahin kemewahan? Apa perlu gue bahas? Perlu kayaknya karena gue sendiri benci banget sama orang-orang yang nyalahin orang lain yang lebih kaya dari mereka.

Sedikit menyimpang sedikit dari masalah ini ya. Ini gara-gara Degon Begon komen gitu gue jadi pengen bahas. Bahwa ternyata sifat lain terutama dari kalangan menengah-kebawah yaitu iri. Benci banget kayaknya sama orang kaya yang naik mobil. Sering kan denger kalo nyerempet motor misalnya dan yang punya mobil marah, si motor malah ngejawab “SOMBONG LU JANGAN MENTANG2 NAIK MOBIL”, padahal motornya yang salah. yaela. Bangga amat sih jadi orang miskin sampe status miskin itu dijadiin tameng terus. Emang orang miskin gabisa salah apa? Ga cuma di jalanan, rumah-rumah pinggir kali yang mau ditertibkan. Padahal untuk kenyamanan bersama. Kaga mau. Padahal mau dipindahin ke rumah susun. yaela. Ntar berkisahnya “KAMI RAKYAT KECIL SELALU TERSINGKIR!!”. yaela.

Oke selesai luapan emosinya, kita lanjot sama kisahnya si Degon Begon hahaha.

Screenshot 2014-05-26 04.53.32Catet ya dia ngomong udah setinggi apa. Kita liat jawaban-jawaban selanjutnya.

Screenshot 2014-05-26 04.53.42Screenshot 2014-05-26 04.53.51

Nah ini dia bagian paling bisa diketawain.

 

Screenshot 2014-05-26 04.54.49

Jadi sekarang kita paham ya kenapa susah banget kita maju. Talk is cheap, liat udah setinggi apa Degon ngomong dari yang awalnya masalah taman aja dia nyerempet kemana-mana sampe global warming, tidak lupa mencela mobil dan orang-orang kota besar. Toh ujung-ujungnya dia hanya bisa menunggu orang yang punya kuasa. Ditambah lagi komentarnya bahwa diri sendiri gak akan bisa melakukannya dan keluh kesah serta prihatin dianggap sebagai sebuah tindakan/aksi nyata. Tergantung. Ga sekalian gantung diri aja?

Screenshot 2014-05-26 04.55.31OKAY! End of story, diambil moralnya ya. Udah jam 6. Sebaiknya gue tidur2 ayam dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s