Ragam Indonesian dalam berkomentar

Sebagai seorang komentator kelas dunia via blog gue yang juga kelas dunia ini, gue ingin menyuarakan pendapat dan komentar gue yang kali ini tentang kebiasaan orang Indonesia kalo komentar.

Gue sendiri tentu saja bukan orang Indonesia, seperti yang sudah sering gue katakan bahwa gue adalah orang Atlantis.

Hal ini gue sadari sekejap yang lalu ketika gue menemukan artikel yang di share ke timeline Facebook lalu gue baca dan ternyata tentang berita anak kecil umur 6tahun yang ususnya dipotong karena keseringan makan mie. Seperti yang gue duga artikel cam macam gini commentnya pasti banyak dibawah. Ck. Coba blog gue juga banyak yang comment, pasti viewers naik tajam.
Karena yang gini2 biasanya bisa jadi bahan buat gue komentarin maka gue bacalah ya comment2nya.

Lagi-lagi seperti yang gue duga, setelah beberapa comment lalu mulai ada perbedaan pendapat dan adu comment, bahkan beberapa ada yang langsung ngatain. Hmm. Familiar ya, yang kaya gini gue juga sering liat nih di kolom komentar berbagai situs berita.

Yang gue temukan nih ya polanya pasti sama:
1. Ada yang pro dan muji2
Contoh: “Teruskan kerjamu yang amanah Pak Jokowi! God bless!”

2. Ada yang pro dan muji2 dan menjelekkan oposisi
Contoh: “Maju terus Pak Jokowi! Jangan kaya gubernur yang kemarin yang modal kumis doang!”

3. Ada yang kontra dan mengkritik secara santun serta terpelajar disertai beberapa contoh kasus
Contoh: “Menurut saya pribadi kegiatan JNF itu merupakan pemborosan anggaran yang padahal bisa digunakan untuk pembangunan Jakarta mengingat kondisi blablablapanjanglebarguemalesngarangnya”

4. Ada yang kontra dan mengkritik pedas, beberapa disertai contoh kasus (meskipun kadang suka rada ga nyambung) tapi sebagian besar sekedar jelekin aja
Contoh: “Halah! Semua pejabat sama aja korup cari muka dasar tikus, liat aja tuh si Gayus, namanya Gayus Tambunan pasti karena ibunya punya firasat dia bakal tambun pakai uang rakyat!”

5. Ada yang rasis
Contoh: “Namanya juga cina, apa juga diduitin dijadiin bisnis. Serakah!”
6. Ada yang menyarankan untuk bertobat, bahkan ga jarang ada yang fanatik.

Contoh: “Astagfirullah! memang ini tanda-tanda akhir zaman! Segeralah bertaubat karena azab Allah begitu menyiksa!”

 

Bahkan makin kesini gue menemukan orang-orang makin aneh kalo berkomentar. bisa jadi malah ga nyambung sama sekali. Terlepas dari itu menurut gue bacain kolom komentar seringkali jauh lebih seru daripada baca artikelnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s