from womb to tomb, our lives are not our own

“My dearest Sixsmith, I shot myself through the roof of my mouth this morning with Vivian Ayrs’ Luger. A true suicide is a paced, disciplined certainty. People pontificate suicide is a coward’s act. Couldn’t be further from the truth. Suicide takes tremendous courage.” -Cloud Atlas

it takes tremendous courage to kill yourself, untuk melawan insting sebagai mahluk hidup untuk bertahan hidup. Meskipun ada juga orang yang bunuh diri karena emosi sesaat dan ga cukup berpikir, but still, mereka orang bodoh yang berani. Bukannya pengecut tapi kadang hidup emang terasa terlalu berat. Terasa. Sebagian bahkan mikir “gue aja ga minta lahir kenapa gue dipaksa hidup, berat pula”. Gue bahkan gatau poin gue apa disini.

Tapi penasaran aja ya, orang yang bunuh dirinya berhasil, kalo saat itu mereka ga bunuh diri, mereka mati gimana? sudden death gitu? Kaya misalnya orang mau gantung diri trus seharusnya emang kalo dia gantung diri dia mati, tapi sebelum dia jadi gantung diri dia berubah pikiran. hm. Apa jangan-jangan kematian gapernah dijadwalin sama Tuhan dan dia datang sangat tiba-tiba. Kematian mengalir dalam hembusan nafas dan menghinggapi yang dikehendakinya. Kalo gitu, bukannya berarti setiap orang berhak mengakhiri hidupnya. Tuhan punya rencana but it’s my life. Gue merasa agak kontroversial sih nulis ini but it’s my blog. Ini jadinya kita mulai ber-what if.

What if

Tuhan ternyata emang belum nentuin kapan kita mati. Gue sering mikir kita ga lebih dari polly pocket mini2 ciprit kecil yang dikarang ceritanya sama doi. Bedanya kita ini mainan super canggih yang punya rasa dan pikiran yang mempengaruhi reaksi kita pada tiap script yang Dia buat. Ga kaya kita kalo main boneka2an bonekanya ngikut aja sama script yang kita kasih, boring. Sebenernya Dia belum nentuin kapan waktunya kita beristirahat dengan tenang, selama dia masih punya script ya lanjoot. Alasannya suicide adalah tindakan yang dibenci sama Dia mungkin karena ibaratnya “Lu mainan gue rebel amat sih orang gue masih punya script yang belom lo mainin udah mau udahan aja.”. Kadang Dia yang ngotot kita harus stay alive makanya ga jarang orang bunuh diri trus gagal gitu kan. Kadang juga Dia udah terlanjur kesel sama lo “Yaudahlah mau metong? gih dah”. Itu buat orang yang bunuh dirinya berhasil. Lanjutin paragraf sebelumnya soal orang yang batal bunuh diri. Kalo emang harusnya saat itu dia mati? Sudden death? Kalo dia saat itu beneran bunuh diri? Mungkin gak sih Dia Yang Di Atas Sana nyiapin script untuk “lo matinya bunuh diri” gitu? Banyak banget pertanyaan kalo udah masuk ke what if.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s