breakable

Dalam pergaulan dan kehidupan sosial kita pasti ada tipe orang yang terkesan berperisai pelindung tahan banting dan anti gempa :’). Tadi pagi gue lagi merenungkan hal ini bersama segelas pop mie dan dari hasil diskusi kami dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun bentuk luarnya dan bagaimana pun terlihatnya semua orang itu sebenarnya sama; sama-sama manusia. Sama-sama manusia yang punya rasa takut dan punya titik lemah dan punya sakit hati. Gaada hal yang gabisa hancur di dunia ini. Mungkin sulit, tapi sulit bukan berarti gabisa. Benda aja bisa hancur apalagi manusia. Dari fisik aja manusia jelas lebih mudah hancur daripada baja. Apalagi emosi. Baja gabisa hancur emosinya karena dia gapunya emosi, gapunya psikologis, tapi manusia punya dan inilah yang lebih harus kita jaga.
Setiap orang diakui atau tidak, semua, all of them, mengenakan topeng atau boleh juga disebut perisai. Karena memang itu fungsinya; melindungi sisi terlembek dari diri mereka. Bagian-bagian paling banyak sarafnya yang disinggung dikit sakit. Topengnya beragam. Ada yang topengnya ngedumel mulu, ada yang topengnya bikin mereka invisible, ada yang topengnya entah kenapa senyum terus. Topeng itu juga ada yang mudah lepas, ada juga yang sampe berakar dengan muka pemiliknya sampe begitu saru, bahkan topeng itu menjadi wataknya.
Tapi topeng-topeng itu bukannya tanpa pori-pori tanpa celah. Kalo kata iklan odol lubang kecil pun bisa jadi masalah. Why? Karena lubang kecil bisa jadi besar.
Melalui lubang kecil itu sedikit banyak bisa diintip bahwa ada yang lain lebih dari apa yang terlihat, bahwa ada sesuatu di balik perisai pelindung itu.
Karena gue mulai mabok jadi langsung aja ya. Intinya karena semua topeng para manusia ini punya celah, bukannya gamungkin akhirnya topeng ini hancur dan akhirnya sisi lemah manusia ini terlukai. Topeng ini baik, serius deh menurut gue ini baik, tujuannya untuk ngelindungin diri kita sendiri dari gatau. Mungkin topeng analogi yang kurang tepat, mungkin bisa kita ganti dengan atap. Atap melindungi semua yang ada di bawahnya dari cuaca panas dan hujan, tapi bukannya atap itu gabisa bocor atau bahkan hilang. Yang mau gue sampaikan disini adalah bahwa setiap manusia itu bisa hancur juga loh, kenapa gue mendadak merenungkan ini bersama gelas pop mie gue? Karena gue inget suatu kali dulu ada kejadian buruk menimpa gue. Ya ga buruk banget sih tapi lumayan nyes. Ada temen gue bilang “untung orangnya Maya”. Buset. Yaudah deh anggep aja orang-orang menganggap gue tangguh unbreakable tapi mereka juga suka lupa kalo gue juga manusia sama kaya mereka. Gue bukannya ngeluh atau tersinggung sama pernyataan temen gue itu, gue malah bisa bilang bahwa ada sedikit rasa bangga temen gue bilang gitu artinya gue ga menye. Tapi coba deh bayangin kalo semua orang mikir kaya gitu secara terus menerus. Efeknya sama aja kaya lo main PS atau Xbox 3 hari nonstop, lama-lama mesinnya panas dan bisa rusak. Gue ngepost ini buat mengingatkan bahwa dalam memperlakukan orang kita jangan kebawa sama topeng yang mereka kenakan, tetap ada yang lemah dibawah sana. Jangan sampai tindakan kita pas banget menembus pori-pori topengnya dan malah nyakitin orang itu. Meskipun apapun yang terjadi pasti kita pernah secara ga sengaja nyakitin orang lain, tapi gaada salahnya kan lebih hati-hati dalam bertindak. Kita emang gabisa memperlakukan semua orang sama rata, tapi setiap individu berhak dihargai secara layak.
Topeng/atap/perisai dalam hal ini bisa berarti banyak. Bisa berupa cara berpenampilan kita sehari-hari, atau perlakuan kita sehari-hari, atau mungkin pekerjaan kita, atau strata sosial kita secara umum.

ϺN Λndriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s