maya edisi religius: Definisi Bahagia Dalam Islam (makalah mulok part 1)

Menurut Ibnu Hazm seorang ulama Andalusia bahwa manusia seluruhnya sedang menuju ke satu arah yaitu mengusir kegelisahan. Gelisah bodoh maka belajar gelisah miskin dia bekerja gelisah tidak berperan dalam masyarakat maka dia mencari jabatan status sosial dll. Orang sakit mengatakan bahwa kebahagiaan itu ada pada kesehatan, Orang miskin menyangka bahwa kebahagiaan ada pada harta, rakyat jelata menyangka bahwa kebahagiaan itu datangnya dari kekuasaan dan banyak asumsi-asumsi lainnya. Namun seluruh upaya tersebut tidak membawa kebahagiaan baik ilmu harta maupun jabatan.

Dalam Islam, kebahagiaan itu bersifat mutlak. Hanya satu jalan yang dapat membawa kebahagiaan seseorang yaitu dengan menjadikan seluruh sepak terjangnya di jalan Allah. Kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya jika hati telah dipenuhi dengan iman yang kuat dan bertindak sesuai dengan keyakinan yang kita punya itu. Jika hati telah penuh dengan iman, walaupun kita disiksa sekalipun itu tidak akan jadi masalah. Seperti Bilal bin Rabah yang tetap merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun ia dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah yang tetap merasa bahagia meskipun ia dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat jadi hakim negara. Para sahabat nabi yang rela menunggalkan kampung halamannya hanya demi mempertahankan imannya. Mereka semua tetap merasa bahagia karena mereka hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinannya. Hati akan mendapatkan kenikmatan tersendiri jika hati digunakan untuk mengingat Allah SWT.

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.”

Kebahagiaan yang sesungguhnya itu tidak bersifat kondisional. Jika kita sedang jaya dan sukses, barulah kebahagiaan itu datang. Tapi jika kita bangkrut dan jatuh miskin, maka kebahagiaan itu akan hilang. Dari sini saja dapat dilihat bahwa kebagaiaan yang seperti itu hanya bersifat sesaat saja tergantung dengan kondisi eksternal manusia. Kebahagiaan juga bukan merupakan sebuah khayalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s